KASUS-2, PHOBIA-KANCING CEPRET
Pada saat pertama datang konsultasi kepada saya, Ibu kelahiran Jakarta, 29 tahun yang lalu, anak ketiga dari empat bersaudara, menikah 4 tahun, tanpa anak (Juni 2005), tujuannya bukan untuk menyembuhkan Phobia terhadap "Kancing Cepret".
Waktu itu datang dengan diantar oleh Kakaknya, mereka minta kepada saya, supaya kepribadian yang tertutup, takut dan selalu menerima perlakuan suami yang negatip bisa diubah, karena menurut pihak keluarganya cara itu sangat-sangat-sangat merugikan si Ibu tersebut.
Jadi kasusnya terkait dengan kasus KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga), setelah saya mendengarkan kesaksian langsung dari si Ibu, diakui Suaminya itu sangat temperamental, kasar, ringan tangan (suka memukul), suka mabuk dan suka berjudi pula.
Tapi Ibu itu selalu menerima keadaan tersebut, walaupun sangat menyakitkan hati dan fisiknya, dia tidak mau bercerita kepada siapapun, termasuk kepada keluarganya sendiri, bahkan ia selalu menutup-nutupi kasus KDRT tersebut dan selalu membela suaminya, alasannya karena takut diceraikan oleh suaminya.
Tempat pengaduannya hanyalah kepada Tuhan, hal itu yang membuat keluarga dan saudara-saudaranya sangat geram dan marah sekali, melihat sifat sifat adiknya yang selalu "menerima" saja perlakuan kasar dari suaminya.
Jadi yang diinginkan adalah mengubah kepribadiannya, agar Ibu tersebut mempunyai sikap mental yang tegas, berani, tidak takut, komunikatif dan mau menceritakan keadaan rumah tangganya kepada keluarganya.
Dalam proses terapi itulah, akhirnya ada beberapa penyakit Psikosomatik lain yang diderita oleh si Ibu, minta untuk disembuhkan juga, salah satunya adalah Phobia kepada "Kancing Cepret".
Karena Phobia nya tersebut, maka setiap membeli pakaian atau gaun, dia tidak akan pernah memilih gaun yang memakai "Kancing Cepret", walaupun model dari gaun tersebut sangat dia sukai dan ingin sekali dimilikinya.
Menurutnya ada beberapa baju atasan pemberian dari saudara dan teman-temannya yang terpaksa diberikan lagi kepada orang lain karena pada gaun tersebut ada "Kancing Cepret" nya.
Setelah selesai menjalani Psikoterapis, kabar terakhir yang saya dengar dari keluarga Ibu ini adalah pihak suami telah di laporkan ke kepolisian dan telah membuat surat pernyataan untuk tidak mengulangi perbuatannya tersebut.
Rupanya Ibu ini betul-betul cinta mati kepada suaminya, ia menerima kembali suaminya dan memaafkannya,......... luar biasa, saya hanya bisa mendoakan semoga suaminya dibukakan mata hatinya oleh Tuhan, agar dia bisa melihat betapa luar biasanya cinta dan pengorbanan istri kepada suaminya,............ luar biasa !!!, itukah yang namanya CINTA ???